Selasa, 20 November 2012
QURINUS SEZO: Ibu ku
QURINUS SEZO: Ibu ku: Jalannya sudah tertatih-tatih, karena usianya sudah lebih dari 70 tahun, sehingga kalau tidak perlu sekali, jarang ia bisa dan mau keluar...
Minggu, 28 Oktober 2012
Ibu ku
Jalannya sudah tertatih-tatih, karena usianya
sudah lebih dari 70 tahun, sehingga kalau tidak perlu sekali, jarang ia
bisa dan mau keluar rumah. Wala
upun ia
mempunyai seorang anak perempuan, ia harus tinggal di rumah jompo,
karena kehadirannya tidak diinginkan. Masih teringat olehnya, betapa
berat penderitaannya ketika akan melahirkan putrinya tersebut. Ayah dari
anak tersebut minggat setelah menghamilinya tanpa mau bertanggung jawab
atas perbuatannya. Di samping itu keluarganya menuntut agar ia
menggugurkan bayi yang belum dilahirkan, karena keluarganya merasa malu
mempunyai seorang putri yang hamil sebelum nikah, tetapi ia tetap
mempertahankannya, oleh sebab itu ia diusir dari rumah orang tuanya.
Selain aib yang harus di tanggung, ia pun harus bekerja berat di pabrik untuk membiayai hidupnya. Ketika ia melahirkan putrinya, tidak ada seorang pun yang mendampinginya. Ia tidak mendapatkan kecupan manis maupun ucapan selamat dari siapapun juga, yang ia dapatkan hanya cemohan, karena telahelahirkan seorang bayi haram tanpa bapa. Walaupun demikian ia merasa bahagia sekali atas berkat yang didapatkannya dari Tuhan di mana ia telah dikaruniakan seorang putri. Ia berjanji akan memberikan seluruh kasih sayang yang ia miliki hanya untuk putrinya seorang, oleh sebab itulah putrinya diberi nama Love – Kasih.
Siang ia harus bekerja berat di pabrik dan di waktu malam hari ia harus menjahit sampai jauh malam, karena itu merupakan penghasilan tambahan yang ia bisa dapatkan. Terkadang ia harus menjahit sampai jam 2 pagi, tidur lebih dari 4 jam sehari itu adalah sesuatu kemewahan yang tidak pernah ia dapatkan. Bahkan Sabtu Minggu pun ia masih bekerja menjadi pelayan restaurant. Ini ia lakukan semua agar ia bisa membiayai kehidupan maupun biaya sekolah putrinya yang tercinta. Ia tidak mau menikah lagi, karena ia masih tetap mengharapkan, bahwa pada suatu saat ayah dari putrinya akan datang balik kembali kepadanya, di samping itu ia tidak mau memberikan ayah tiri kepada putrinya.
Sejak ia melahirkan putrinya ia menjadi seorang vegetarian, karena ia tidak mau membeli daging, itu terlalu mahal baginya, uang untuk daging yang seyogianya ia bisa beli, ia sisihkan untuk putrinya. Untuk dirinya sendiri ia tidak pernah mau membeli pakaian baru, ia selalu menerima dan memakai pakaian bekas pemberian orang, tetapi untuk putrinya yang tercinta, hanya yang terbaik dan terbagus ia berikan, mulai dari pakaian sampai dengan makanan.
Pada suatu saat ia jatuh sakit, demam panas. Cuaca di luaran sangat dingin sekali, karena pada saat itu lagi musim dingin menjelang hari Natal. Ia telah menjanjikan untuk memberikan sepeda sebagai hadiah Natal untuk putrinya, tetapi ternyata uang yang telah dikumpulkannya belum mencukupinya. Ia tidak ingin mengecewakan putrinya, maka dari itu walaupun cuaca diluaran dingin sekali, bahkan dlm keadaan sakit dan lemah, ia tetap memaksakan diri untuk keluar rumah dan bekerja. Sejak saat tersebut ia kena penyakit rheumatik, sehingga sering sekali badannya terasa sangat nyeri sekali. Ia ingin memanjakan putrinya dan memberikan hanya yang terbaik bagi putrinya walaupun untuk ini ia harus bekorban, jadi dlm keadaan sakit ataupun tidak sakit ia tetap bekerja, selama hidupnya ia tidak pernah absen bekerja demi putrinya yang tercinta.
Karena perjuangan dan pengorbanannya akhirnya putrinya bisa melanjutkan studinya diluar kota. Di sana putrinya jatuh cinta kepada seorang pemuda anak dari seorang konglomerat beken. Putrinya tidak pernah mau mengakui bahwa ia masih mempunyai orang tua. Ia merasa malu bahwa ia ditinggal minggat oleh ayah kandungnya dan ia merasa malu mempunyai seorang ibu yang bekerja hanya sebagai babu pencuci piring di restaurant. Oleh sebab itulah ia mengaku kepada calon suaminya bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal dunia.
Pada saat putrinya menikah, ibunya hanya bisa melihat dari jauh dan itupun hanya pada saat upacara pernikahan di gereja saja. Ia tidak diundang, bahkan kehadirannya tidaklah diinginkan. Ia duduk di sudut kursi paling belakang di gereja, sambil mendoakan agar Tuhan selalu melindungi dan memberkati putrinya yang tercinta. Sejak saat itu bertahun-tahun ia tidak mendengar kabar dari putrinya, karena ia dilarang dan tidak boleh menghubungi putrinya. Pada suatu hari ia membaca di koran bahwa putrinya telah melahirkan seorang putera, ia merasa bahagia sekali mendengar berita bahwa ia sekarang telah mempunyai seorang cucu. Ia sangat mendambakan sekali untuk bisa memeluk dan menggendong cucunya, tetapi ini tidak mungkin, sebab ia tidak boleh menginjak rumah putrinya. Untuk ini ia berdoa tiap hari kepada Tuhan, agar ia bisa mendapatkan kesempatan untuk melihat dan bertemu dengan anak dan cucunya, karena keinginannya sedemikian besarnya untuk bisa melihat putri dan cucunya, ia melamar dengan menggunakan nama palsu untuk menjadi babu di rumah keluarga putrinya.
Ia merasa bahagia sekali, karena lamarannya diterima dan diperbolehkan bekerja disana. Di rumah putrinya ia bisa dan boleh menggendong cucunya, tetapi bukan sebagai Oma dari cucunya melainkan hanya sebagai babu dari keluarga tersebut. Ia merasa berterima kasih sekali kepada Tuhan, bahwa ia permohonannya telah dikabulkan.
Di rumah putrinya, ia tidak pernah mendapatkan perlakuan khusus, bahkan binatang peliharaan mereka jauh lebih dikasihi oleh putrinya daripada dirinya sendiri. Di samping itu sering sekali dibentak dan dimaki oleh putri dan anak darah dagingnya sendiri, kalau hal ini terjadi ia hanya bisa berdoa sambil menangis di dlm kamarnya yang kecil di belakang dapur. Ia berdoa agar Tuhan mau mengampuni kesalahan putrinya, ia berdoa agar hukuman tidak dilimpahkan kepada putrinya, ia berdoa agar hukuman itu dilimpahkan saja kepadanya, karena ia sangat menyayangi putrinya.
Setelah bekerja bertahun-tahun sebagai babu tanpa ada orang yang mengetahui siapa dirinya dirumah tersebut, akhirnya ia menderita sakit dan tidak bisa bekerja lagi. Mantunya merasa berhutang budi kepada pelayan tuanya yang setia ini sehingga ia memberikan kesempatan untuk menjalankan sisa hidupnya di rumah jompo.
Puluhan tahun ia tidak bisa dan tidak boleh bertemu lagi dengan putri kesayangannya. Uang pension yang ia dapatkan selalu ia sisihkan dan tabung untuk putrinya, dengan pemikiran siapa tahu pada suatu saat ia membutuhkan bantuannya.
Pada tahun lampau beberapa hari sebelum hari Natal, ia jatuh sakit lagi, tetapi ini kali ia merasakan bahwa saatnya sudah tidak lama lagi. Ia merasakan bahwa ajalnya sudah mendekat. Hanya satu keinginan yang ia dambakan sebelum ia meninggal dunia, ialah untuk bisa bertemu dan boleh melihat putrinya sekali lagi. Di samping itu ia ingin memberikan seluruh uang simpanan yang ia telah kumpulkan selama hidupnya, sebagai hadiah terakhir untuk putrinya.
Suhu diluaran telah mencapai 17 derajat di bawah nol dan salujupun turun dengan lebatnya, jangankan manusia anjingpun pada saat ini tidak mau keluar rumah lagi, karena di luaran sangat dingin, tetapi Nenek tua ini tetap memaksakan diri untuk pergi ke rumah putrinya. Ia ingin betemu dengan putrinya sekali lagi yang terakhir kali. Dengan tubuh menggigil karena kedinginan, ia menunggu datangnya bus berjam-jam di luaran. Ia harus dua kali ganti bus, karena jarak rumah jompo tempat di mana ia tinggal letaknya jauh dari rumah putrinya. Satu perjalanan yang jauh dan tidak mudah bagi seorang nenek tua yang berada dlm keadaan sakit.
Setiba di rumah putrinya dlm keadaan lelah dan kedinginan ia mengetuk rumah putrinya dan ternyata purtinya sendiri yang membukakan pintu rumah gedong di mana putrinya tinggal. Apakah ucapan selamat datang yang diucapkan putrinya ? Apakah rasa bahagia bertemu kembali dengan ibunya? Tidak! Bahkan ia ditegor: “Kamu sudah bekerja di rumah kami puluhan tahun sebagai pembantu, apakah kamu tidak tahu bahwa untuk pembantu ada pintu khusus, ialah pintu di belakang rumah!”
“Nak, Ibu datang bukannya untuk bertamu melainkan hanya ingin memberikan hadiah Natal untukmu. Ibu ingin melihat kamu sekali lagi, mungkin yang terakhir kalinya, bolehkah saya masuk sebentar saja, karena di luaran dingin sekali dan sedang turun salju. Ibu sudah tidak kuat lagi nak!” kata wanita tua itu.
“Maaf saya tidak ada waktu, di samping itu sebentar lagi kami akan menerima tamu seorang pejabat tinggi, lain kali saja. Dan kalau lain kali mau datang telepon dahulu, jangan sembarangan datang begitu saja!” ucapan putrinya dengan nada kesal. Setelah itu pintu ditutup dengan keras. Ia mengusir ibu kandungnya sendiri, seperti juga mengusir seorang pengemis.
Tidak ada rasa kasih, jangankan kasih, belas kasihanpun tidak ada. Setelah beberapa saat kemudian bel rumah bunyi lagi, ternyata ada orang mau pinjam telepon di rumah putrinya “Maaf Bu, mengganggu, bolehkah kami pinjam teleponnya sebentar untuk menelpon ke kantor polisi, sebab di halte bus di depan ada seorang nenek meninggal dunia, rupanya ia mati kedinginan!”
Wanita tua ini mati bukan hanya kedinginan jasmaniahnya saja, tetapi juga perasaannya. Ia sangat mendambakan sekali kehangatan dari kasih sayang putrinya yang tercinta yang tidak pernah ia dapatkan selama hidupnya.
Seorang Ibu melahirkan dan membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang tanpa mengharapkan pamrih apapun juga. Seorang Ibu bisa dan mampu memberikan waktunya 24 jam sehari bagi anak-anaknya, tidak ada perkataan siang maupun malam, tidak ada perkataan lelah ataupun tidak mungkin dan ini 366 hari dlm setahun. Seorang Ibu mendoakan dan mengingat anaknya tiap hari bahkan tiap menit dan ini sepanjang masa. Bukan hanya setahun sekali saja pada hari-hari tertentu. Kenapa kita baru bisa dan mau memberikan bunga maupun hadiah kepada Ibu kita hanya pada waktu hari Ibu saja “Mother’s Day” sedangkan di hari-hari lainnya tidak pernah mengingatnya, boro-boro memberikan hadiah, untuk menelpon saja kita tidak punya waktu.
Kita akan bisa lebih membahagiakan Ibu kita apabila kita mau memberikan sedikit waktu kita untuknya, waktu nilainya ada jauh lebih besar daripada bunga maupun hadiah. Renungkanlah: Kapan kita terakhir kali menelpon Ibu? Kapan kita terakhir mengundang Ibu? Kapan terakhir kali kita mengajak Ibu jalan-jalan? Dan kapan terakhir kali kita memberikan kecupan manis dengan ucapan terima kasih kepada Ibu kita? Dan kapankah kita terakhir kali berdoa untuk Ibu kita?
Berikanlah kasih sayang selama Ibu kita masih hidup, percuma kita memberikan bunga maupun tangisan apabila Ibu telah berangkat, karena Ibu tidak akan bisa melihatnya lagi.
Selain aib yang harus di tanggung, ia pun harus bekerja berat di pabrik untuk membiayai hidupnya. Ketika ia melahirkan putrinya, tidak ada seorang pun yang mendampinginya. Ia tidak mendapatkan kecupan manis maupun ucapan selamat dari siapapun juga, yang ia dapatkan hanya cemohan, karena telahelahirkan seorang bayi haram tanpa bapa. Walaupun demikian ia merasa bahagia sekali atas berkat yang didapatkannya dari Tuhan di mana ia telah dikaruniakan seorang putri. Ia berjanji akan memberikan seluruh kasih sayang yang ia miliki hanya untuk putrinya seorang, oleh sebab itulah putrinya diberi nama Love – Kasih.
Siang ia harus bekerja berat di pabrik dan di waktu malam hari ia harus menjahit sampai jauh malam, karena itu merupakan penghasilan tambahan yang ia bisa dapatkan. Terkadang ia harus menjahit sampai jam 2 pagi, tidur lebih dari 4 jam sehari itu adalah sesuatu kemewahan yang tidak pernah ia dapatkan. Bahkan Sabtu Minggu pun ia masih bekerja menjadi pelayan restaurant. Ini ia lakukan semua agar ia bisa membiayai kehidupan maupun biaya sekolah putrinya yang tercinta. Ia tidak mau menikah lagi, karena ia masih tetap mengharapkan, bahwa pada suatu saat ayah dari putrinya akan datang balik kembali kepadanya, di samping itu ia tidak mau memberikan ayah tiri kepada putrinya.
Sejak ia melahirkan putrinya ia menjadi seorang vegetarian, karena ia tidak mau membeli daging, itu terlalu mahal baginya, uang untuk daging yang seyogianya ia bisa beli, ia sisihkan untuk putrinya. Untuk dirinya sendiri ia tidak pernah mau membeli pakaian baru, ia selalu menerima dan memakai pakaian bekas pemberian orang, tetapi untuk putrinya yang tercinta, hanya yang terbaik dan terbagus ia berikan, mulai dari pakaian sampai dengan makanan.
Pada suatu saat ia jatuh sakit, demam panas. Cuaca di luaran sangat dingin sekali, karena pada saat itu lagi musim dingin menjelang hari Natal. Ia telah menjanjikan untuk memberikan sepeda sebagai hadiah Natal untuk putrinya, tetapi ternyata uang yang telah dikumpulkannya belum mencukupinya. Ia tidak ingin mengecewakan putrinya, maka dari itu walaupun cuaca diluaran dingin sekali, bahkan dlm keadaan sakit dan lemah, ia tetap memaksakan diri untuk keluar rumah dan bekerja. Sejak saat tersebut ia kena penyakit rheumatik, sehingga sering sekali badannya terasa sangat nyeri sekali. Ia ingin memanjakan putrinya dan memberikan hanya yang terbaik bagi putrinya walaupun untuk ini ia harus bekorban, jadi dlm keadaan sakit ataupun tidak sakit ia tetap bekerja, selama hidupnya ia tidak pernah absen bekerja demi putrinya yang tercinta.
Karena perjuangan dan pengorbanannya akhirnya putrinya bisa melanjutkan studinya diluar kota. Di sana putrinya jatuh cinta kepada seorang pemuda anak dari seorang konglomerat beken. Putrinya tidak pernah mau mengakui bahwa ia masih mempunyai orang tua. Ia merasa malu bahwa ia ditinggal minggat oleh ayah kandungnya dan ia merasa malu mempunyai seorang ibu yang bekerja hanya sebagai babu pencuci piring di restaurant. Oleh sebab itulah ia mengaku kepada calon suaminya bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal dunia.
Pada saat putrinya menikah, ibunya hanya bisa melihat dari jauh dan itupun hanya pada saat upacara pernikahan di gereja saja. Ia tidak diundang, bahkan kehadirannya tidaklah diinginkan. Ia duduk di sudut kursi paling belakang di gereja, sambil mendoakan agar Tuhan selalu melindungi dan memberkati putrinya yang tercinta. Sejak saat itu bertahun-tahun ia tidak mendengar kabar dari putrinya, karena ia dilarang dan tidak boleh menghubungi putrinya. Pada suatu hari ia membaca di koran bahwa putrinya telah melahirkan seorang putera, ia merasa bahagia sekali mendengar berita bahwa ia sekarang telah mempunyai seorang cucu. Ia sangat mendambakan sekali untuk bisa memeluk dan menggendong cucunya, tetapi ini tidak mungkin, sebab ia tidak boleh menginjak rumah putrinya. Untuk ini ia berdoa tiap hari kepada Tuhan, agar ia bisa mendapatkan kesempatan untuk melihat dan bertemu dengan anak dan cucunya, karena keinginannya sedemikian besarnya untuk bisa melihat putri dan cucunya, ia melamar dengan menggunakan nama palsu untuk menjadi babu di rumah keluarga putrinya.
Ia merasa bahagia sekali, karena lamarannya diterima dan diperbolehkan bekerja disana. Di rumah putrinya ia bisa dan boleh menggendong cucunya, tetapi bukan sebagai Oma dari cucunya melainkan hanya sebagai babu dari keluarga tersebut. Ia merasa berterima kasih sekali kepada Tuhan, bahwa ia permohonannya telah dikabulkan.
Di rumah putrinya, ia tidak pernah mendapatkan perlakuan khusus, bahkan binatang peliharaan mereka jauh lebih dikasihi oleh putrinya daripada dirinya sendiri. Di samping itu sering sekali dibentak dan dimaki oleh putri dan anak darah dagingnya sendiri, kalau hal ini terjadi ia hanya bisa berdoa sambil menangis di dlm kamarnya yang kecil di belakang dapur. Ia berdoa agar Tuhan mau mengampuni kesalahan putrinya, ia berdoa agar hukuman tidak dilimpahkan kepada putrinya, ia berdoa agar hukuman itu dilimpahkan saja kepadanya, karena ia sangat menyayangi putrinya.
Setelah bekerja bertahun-tahun sebagai babu tanpa ada orang yang mengetahui siapa dirinya dirumah tersebut, akhirnya ia menderita sakit dan tidak bisa bekerja lagi. Mantunya merasa berhutang budi kepada pelayan tuanya yang setia ini sehingga ia memberikan kesempatan untuk menjalankan sisa hidupnya di rumah jompo.
Puluhan tahun ia tidak bisa dan tidak boleh bertemu lagi dengan putri kesayangannya. Uang pension yang ia dapatkan selalu ia sisihkan dan tabung untuk putrinya, dengan pemikiran siapa tahu pada suatu saat ia membutuhkan bantuannya.
Pada tahun lampau beberapa hari sebelum hari Natal, ia jatuh sakit lagi, tetapi ini kali ia merasakan bahwa saatnya sudah tidak lama lagi. Ia merasakan bahwa ajalnya sudah mendekat. Hanya satu keinginan yang ia dambakan sebelum ia meninggal dunia, ialah untuk bisa bertemu dan boleh melihat putrinya sekali lagi. Di samping itu ia ingin memberikan seluruh uang simpanan yang ia telah kumpulkan selama hidupnya, sebagai hadiah terakhir untuk putrinya.
Suhu diluaran telah mencapai 17 derajat di bawah nol dan salujupun turun dengan lebatnya, jangankan manusia anjingpun pada saat ini tidak mau keluar rumah lagi, karena di luaran sangat dingin, tetapi Nenek tua ini tetap memaksakan diri untuk pergi ke rumah putrinya. Ia ingin betemu dengan putrinya sekali lagi yang terakhir kali. Dengan tubuh menggigil karena kedinginan, ia menunggu datangnya bus berjam-jam di luaran. Ia harus dua kali ganti bus, karena jarak rumah jompo tempat di mana ia tinggal letaknya jauh dari rumah putrinya. Satu perjalanan yang jauh dan tidak mudah bagi seorang nenek tua yang berada dlm keadaan sakit.
Setiba di rumah putrinya dlm keadaan lelah dan kedinginan ia mengetuk rumah putrinya dan ternyata purtinya sendiri yang membukakan pintu rumah gedong di mana putrinya tinggal. Apakah ucapan selamat datang yang diucapkan putrinya ? Apakah rasa bahagia bertemu kembali dengan ibunya? Tidak! Bahkan ia ditegor: “Kamu sudah bekerja di rumah kami puluhan tahun sebagai pembantu, apakah kamu tidak tahu bahwa untuk pembantu ada pintu khusus, ialah pintu di belakang rumah!”
“Nak, Ibu datang bukannya untuk bertamu melainkan hanya ingin memberikan hadiah Natal untukmu. Ibu ingin melihat kamu sekali lagi, mungkin yang terakhir kalinya, bolehkah saya masuk sebentar saja, karena di luaran dingin sekali dan sedang turun salju. Ibu sudah tidak kuat lagi nak!” kata wanita tua itu.
“Maaf saya tidak ada waktu, di samping itu sebentar lagi kami akan menerima tamu seorang pejabat tinggi, lain kali saja. Dan kalau lain kali mau datang telepon dahulu, jangan sembarangan datang begitu saja!” ucapan putrinya dengan nada kesal. Setelah itu pintu ditutup dengan keras. Ia mengusir ibu kandungnya sendiri, seperti juga mengusir seorang pengemis.
Tidak ada rasa kasih, jangankan kasih, belas kasihanpun tidak ada. Setelah beberapa saat kemudian bel rumah bunyi lagi, ternyata ada orang mau pinjam telepon di rumah putrinya “Maaf Bu, mengganggu, bolehkah kami pinjam teleponnya sebentar untuk menelpon ke kantor polisi, sebab di halte bus di depan ada seorang nenek meninggal dunia, rupanya ia mati kedinginan!”
Wanita tua ini mati bukan hanya kedinginan jasmaniahnya saja, tetapi juga perasaannya. Ia sangat mendambakan sekali kehangatan dari kasih sayang putrinya yang tercinta yang tidak pernah ia dapatkan selama hidupnya.
Seorang Ibu melahirkan dan membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang tanpa mengharapkan pamrih apapun juga. Seorang Ibu bisa dan mampu memberikan waktunya 24 jam sehari bagi anak-anaknya, tidak ada perkataan siang maupun malam, tidak ada perkataan lelah ataupun tidak mungkin dan ini 366 hari dlm setahun. Seorang Ibu mendoakan dan mengingat anaknya tiap hari bahkan tiap menit dan ini sepanjang masa. Bukan hanya setahun sekali saja pada hari-hari tertentu. Kenapa kita baru bisa dan mau memberikan bunga maupun hadiah kepada Ibu kita hanya pada waktu hari Ibu saja “Mother’s Day” sedangkan di hari-hari lainnya tidak pernah mengingatnya, boro-boro memberikan hadiah, untuk menelpon saja kita tidak punya waktu.
Kita akan bisa lebih membahagiakan Ibu kita apabila kita mau memberikan sedikit waktu kita untuknya, waktu nilainya ada jauh lebih besar daripada bunga maupun hadiah. Renungkanlah: Kapan kita terakhir kali menelpon Ibu? Kapan kita terakhir mengundang Ibu? Kapan terakhir kali kita mengajak Ibu jalan-jalan? Dan kapan terakhir kali kita memberikan kecupan manis dengan ucapan terima kasih kepada Ibu kita? Dan kapankah kita terakhir kali berdoa untuk Ibu kita?
Berikanlah kasih sayang selama Ibu kita masih hidup, percuma kita memberikan bunga maupun tangisan apabila Ibu telah berangkat, karena Ibu tidak akan bisa melihatnya lagi.
Oh, Ayah ku tersayang?
pernahkah anda tahu betapa cintanya Ia kepadamu?
pernahkah anda tahu betapa Ia berusaha untuk membahagiakanmu?
atau anda tak mau tahu dengan semua itu?
sahabat..
pernahkah anda mengatakan padanya betapa anda mencintainya?
pernahkah anda usap air matanya saat Ia sedih?
pernahkah anda membuat Ia bangga kepadamu?
masih ingatkah kapan terakhir kali anda peluk ayahmu?
masih ingatkah anda saat melukai hatinya?
masih ingatkah saat Ia anda buat kecewa?
anda membohonginya??atau anda malah memarahinya & membentaknya?
betapa beruntungnya kalian yang masih bisa mendengarkannya saat Ia memberi nasihat.
betapa beruntungnya kalian yang masih bisa melihat Ia pulang sehabis bekerja dengan senyum di wajahnya seolah tak merasa sedikitpun lelah.
betapa beruntungnya kalian yang masih bercerita kepadanya saat kau mengalami kesulitan.
sahabat..
pernahkah anda merasa malu saat Ia mengantarmu kesekolah dengan berjalan kaki?
atau pernahkah kau acuh saat Ia memberimu nasihat?
dia yang slalu tersenyum untukmu walau saat masalah menghampirinya..
dia yang slalu ada untukmu disaat orang perlahan menjauhimu..
bayangkan jika saat ini adalah saat terakhirmu bersamanya..
bayangkan betapa anda telah membuang percuma kesempatan membahagiakan ayahmu..
saat maaf tak berguna lagi..saat penyesalan menjadi percuma..
sahabat..
belum terlambat untuk meminta maaf..
belum terlambat untuk mengatakan betapa anda mencintainya..
belum terlambat untuk berjanji bahwa anda dapat penuhi sgala pintanya..
belum terlambat untuk mendoakan kebaikan untuknya..
karena Ia sangat mencintaimu jauh lebih dari yang anda tahu..
karena baginya anda adalah segalanya..
belum terlambat..sahabat..
" AMPUNILAH DAN BERDOALAH SEMOGA DAPAT MENGAMPUNI KESALAHAN YANG TELAH KITA BERBUAT KEPADANYA"
Apakah Hikmah Persoalan Hidup?
Perjalan hidup memang tidak mudah, segala masalah selalu menghampiri kita. Banyak orang yang tidak mau menyelesaikan masalahnya dengan baik, lari dari masalah, melampiaskan masalahnya dengan berbagai hal, seperti narkoba, minum-minuman keras, membunuh dan lain-lain.
Orang-orang yang biasa ramai dalam rumah, penuh canda tawa, sekarang menjadi tegan
g. mereka p
ada
lari dari rumah, sempat terlintas dalam pikiran, bahwa kita juga ingin
lari dari rumah, dan ingin rasanya bunuh diri, karena semua keluarga
kita tidak ada yang baikan lagi. Karena aku tidak ingin hidup penuh
dengan dendam. Akhirnya kita mencoba bertahan dalam situasi yang sulit.
Satu tahun lamanya mereka sudah mulai mendekat kembali ke rumah lagi.
hati kita sangat senang.
Banyak orang cerdas di dunia ini, namun kecerdasan itu terkadang tidak di gunakan untuk kebaikan sesama, orang cerdas terkadang malah merugikan orang lain.
Hikmah yang kita dapat ialah, bahwa jangan cepat lari dari masalah hidup, penyelesaian masalah tidak gampang, jadi bersabarlah dan teruslah berdoa. Lari tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah.
Banyak orang cerdas di dunia ini, namun kecerdasan itu terkadang tidak di gunakan untuk kebaikan sesama, orang cerdas terkadang malah merugikan orang lain.
Hikmah yang kita dapat ialah, bahwa jangan cepat lari dari masalah hidup, penyelesaian masalah tidak gampang, jadi bersabarlah dan teruslah berdoa. Lari tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah.
Terlelap Sejenak dengan IBUNDA
Matahari bersinar dengan lembut, udara pagi masuk ke ruang kamar yang remang-remang membuat udara kamar menjadi sangat menyegarkan. Pagi itu terdengar juga suara burung berkicau tapi tidak bersahutan, mungkin si burung sedang membangunkan teman-teman burung lainnya yang masih terlelap.
Terngiang ucapannya yang ia ucapkan kepada ibundanya di awal tahun..
“Ibu,
mohon
doakan aku, tahun ini aku akan melipat gandakan penghasilanku melalui
usahaku, aku ingin membahagiakan Ibu dengan hasil itu. Mohon doa
restunya”.
Begitu ucapnya, janjinya, cita-citanya yang ia ungkapkan di hadapan sang Ibunda tercintanya. Tak terasa setitik air mata menetes di ujung mata yang masih terpejam itu. Mengingat selama ini Ucup merasa usahanya belum maksimal, ia lebih banyak bermain-main, melakukan hal-hal yang bukan seharusnya menjadi prioritasnya.
“Usia Ibu tidak muda lagi, kapan kamu mau mulai membalas jasa-jasanya?”
suara itu semakin memburunya..
“Wajah Ibu sudah mulai banyak berkerut di sana sini, kapan kamu mau membalas kebaikan-kebaikannya?”
suara itu kembali mengejarnya..
“Ibu memang tidak pernah meminta apa-apa, tapi apakah engkau tidak ingin melihatnya tersenyum sambil menangis karena bangga melihat anaknya berhasil?”
suara itu makin mengaduk emosinya..
Suara itu semakin membuat air matanya mengalir.. Ucup merasa berdosa, ia sangat mencintai Ibundanya tapi terkadang godaan dalam kesehariannya membuat ia lupa akan cita-citanya membahagiakan sang Ibu. Lingkungannya yang melenakan membuat ia lupa akan janjinya memberikan hanya yang terbaik untuk Ibundanya.
Bisa jadi kita adalah Ucup. Yang lupa bahwa kita harus membayar pengorbanan Ibu kita membesarkan kita dengan sepenuh cinta. Yang harus membuat bangga Ayah dengan kita menjadi manusia yang berhasil.Yang bisa membuat Ayah dan Ibu berkata
“Ini anakku.. aku bangga kepadanya!”
Begitu ucapnya, janjinya, cita-citanya yang ia ungkapkan di hadapan sang Ibunda tercintanya. Tak terasa setitik air mata menetes di ujung mata yang masih terpejam itu. Mengingat selama ini Ucup merasa usahanya belum maksimal, ia lebih banyak bermain-main, melakukan hal-hal yang bukan seharusnya menjadi prioritasnya.
“Usia Ibu tidak muda lagi, kapan kamu mau mulai membalas jasa-jasanya?”
suara itu semakin memburunya..
“Wajah Ibu sudah mulai banyak berkerut di sana sini, kapan kamu mau membalas kebaikan-kebaikannya?”
suara itu kembali mengejarnya..
“Ibu memang tidak pernah meminta apa-apa, tapi apakah engkau tidak ingin melihatnya tersenyum sambil menangis karena bangga melihat anaknya berhasil?”
suara itu makin mengaduk emosinya..
Suara itu semakin membuat air matanya mengalir.. Ucup merasa berdosa, ia sangat mencintai Ibundanya tapi terkadang godaan dalam kesehariannya membuat ia lupa akan cita-citanya membahagiakan sang Ibu. Lingkungannya yang melenakan membuat ia lupa akan janjinya memberikan hanya yang terbaik untuk Ibundanya.
Bisa jadi kita adalah Ucup. Yang lupa bahwa kita harus membayar pengorbanan Ibu kita membesarkan kita dengan sepenuh cinta. Yang harus membuat bangga Ayah dengan kita menjadi manusia yang berhasil.Yang bisa membuat Ayah dan Ibu berkata
“Ini anakku.. aku bangga kepadanya!”
Label:
Ibu
Lokasi:
Nusa Tenggara Timur, Indonesia
Oh Ayah dan Ibu ku....!
Ketika kita kecil, tak berdaya, Ayah Ibu selalu ada untuk kita. Memberikan kasih sayangnya tanpa menghitung-hitung dan tanpa diukur-ukur. Memberikan pelukan erat dan ciuman hangat di 24 jam hari-hari kita.
Ketika kita mulai beranjak besar, setiap hari Ayah Ibu selalu mendoakan kita tanpa henti. Selalu khawatir ketika kita mengalami kesulitan. Selalu memikirkan kit
a di atas kondisi mereka sendiri. Rela memberikan apa saja demi mengulas senyum dan membuang khawatir dari wajah kita.
Pertanyaannya, ketika kita sudah mulai memperoleh penghasilan
sendiri, apakah kita ingat kepada mereka? Ketika kita bahagia, apakah
kita ingat untuk membahagiakan mereka?
Sahabatku, bagi yang
sudah punya penghasilan coba ingat-ingat. Ketika kita menerima
penghasilan / gaji pertama kita, siapakah orang yang pertama kali kita
traktir? Teman-teman kah? Pasangan kah? Gebetan kah? Pasti sebagian
besar dari kita melakukan ini, Ayah Ibu di “nomor dua” kan.
Sadarkah kita bahwa jika kita memfokuskan setiap hari kita untuk
membalas jasa Ayah Ibu, maka upaya kita itu tak akan mampu bisa
membalasnya? Sadarkah kita, bahwa kasih sayang mereka kepada kita selalu
ada untuk kita bahkan ketika kita melukai perasaan mereka?
Sahabatku, kemudahan demi kemudahan akan kita temukan ketika kita bisa
memberikan yang terbaik kepada Ayah Ibu kita. Membahagiakan keduanya.
Membalas jasa-jasa mereka. Juga mengulas sejuta senyuman bahagia di
wajah mereka. Pastikan beberapa impian kita adalah untuk kebahagiaan
kedua orang tua kita. Lalu sampaikan keinginan kita itu, lalu mintakan
doa restu keduanya.
by : quryno ata rowa
Masalah yang di jalani dalam hidup ini.
Tidak ada manusia yang terlahir tanpa masalah. Banyak di antara kita menganggap masalah sebagai momok yang tidak jelas dan tidak ada manusia yang mau menerima suatu masalah. Tapi kita harus jelih untuk melihat dari sisi lain dari masalah, maka kita dapat pelajaran baru atau hikmah untuk direfrensi dalam kehidupan kita.
Masalah dapat memberikan kita pengelaman yang belum tentu orang lain dapatkan.
Dengan adanya masalah maka kita dapat menyadari diri kita sendiri dan
menjadi lebih dewasa, untuk tidak melakukan hal yang sama dalam hidup
ini.
"Apabila kita sudah terantuk di batu yang satu, maka di lain waktu kita harus hindari batu yang pernah kita terantuk".
Jadi ucapkan salam dan selamat datang untuk masalah yang sedang dihadapi dalam hidup ini.
salam sahabatq.
by: quryno
Rabu, 17 Oktober 2012
Rumah Besar Lango Bele
Oleh : Alfons Liwun
Lango Bele sebuah kalimat dalam bahasa Lamaholot di Flores Timur NTT.
“Lango bele” artinya “rumah besar.” Disebut “rumah besar” bukan soal
ukuran rumah tersebut. Disebut “rumah besar” karena rumah itu
difungsikan oleh semua masyarakat Kawaliwu Sinar Hading sebagai rumah
bertemuan-rapat masyarakat. Mengapa? Sebab dalam rumah itu semua
aspirasi masyarakat, semua gagasan anggota suatu suku atau marga
dipadukan sehingga menghasil suatu musyawarah mufakat untuk dilaksanakan
dalam hidup sehari-hari.
Bahkan kesepakatan yang sudah diambil
oleh warga yang hadir dinyatakan dalam masyarakat baik untuk
kepentingan suatu suku/marga maupun untuk semua orang. Karena di dalam
kesepakatan itu bukan hanya ide-ide atau gagasan tetapi mendapat restu dari Yang Maha Tinggi wujud tinggi kepercayaan masyarakat Kawaliwu. Dimana
wujud tertinggi itu? Bagi mereka adalah didalam rumah “Lango Bele.”
Oleh : Alfons Liwun
Lango Bele sebuah kalimat dalam bahasa Lamaholot di Flores Timur NTT.
“Lango bele” artinya “rumah besar.” Disebut “rumah besar” bukan soal
ukuran rumah tersebut. Disebut “rumah besar” karena rumah itu
difungsikan oleh semua masyarakat Kawaliwu Sinar Hading sebagai rumah
bertemuan-rapat masyarakat. Mengapa? Sebab dalam rumah itu semua
aspirasi masyarakat, semua gagasan anggota suatu suku atau marga
dipadukan sehingga menghasil suatu musyawarah mufakat untuk dilaksanakan
dalam hidup sehari-hari.
Bahkan kesepakatan yang sudah diambil oleh warga yang hadir dinyatakan dalam masyarakat baik untuk kepentingan suatu suku/marga maupun untuk semua orang. Karena di dalam kesepakatan itu bukan hanya ide-ide atau gagasan tetapi mendapat restu dari Yang Maha Tinggi wujud tinggi kepercayaan masyarakat Kawaliwu. Dimana wujud tertinggi itu? Bagi mereka adalah didalam rumah “Lango Bele.”
Kamis, 04 Oktober 2012
KETENANGAN SENJA
QURINUS SEZO: QURINUS SEZO: KAWALIWU- LARANTUKA KETENANGAN SENJ...: QURINUS SEZO: KAWALIWU- LARANTUKA KETENANGAN SENJA : KAWALIWU- LARANTUKA KETENANGAN SENJA
Label:
DESA KU
Lokasi:
Nusa Tenggara Timur, Indonesia
Rabu, 26 September 2012
POTONG GIGI DI KECAMATAN BOAWAE
PENGERTIAN DAN MAKNA ADAT POTONG GIGI TRADISIONAL KAMPUNG-KAMPUNG
DI KECAMATAN BOAWAE KABUPATEN NAGEKEO
NUSA TENGGARA TIMUR
Oleh: QURINUS SEZO
Adat potong gigi ada yang menyebut menurut bahasa setempat disebut "zuza ngi'i atau koa ngi'i" yang dimaksud adalah
memotong atau meratakan empat gigi seri dan dua taring kiri dan kanan,
pada rahang yang secara simbolik diasah dan
diratakan. Potong gigi ini diberlaku pada remaja/gadis yang umurnya sekitar 12 sampai 23 tahun.
Adapaun makna yang dikandung dalam upacara ini "zuza ngi'i atau koa ngi'i" adalah: pertama sebagai simbolis meningkatnya seorang gadis menjadi dewasa, yakni manusia
yang telah mendapatkan pencerahan, sesuai dengan makna kata dewasa, sudah bisa hidup mandiri, memenuhi kewajiban orang tua dan sudah bisa mencari jodoh serta sudah bisa dipinang oleh lelaki yang sudah dewasa yang belum mempunyai istri dan anak. Kedua secara spiritual, seseorang yang telah disucikan oleh adat setempat.
Berdasarkan pengertian dan makna upacara "zuza ngi'i atau koa ngi'i" berarti mengangkat derajat seorang gadis menjadi dewasa dan dapat dipinang oleh lelaki yang dewasa. Lelaki yang menjadi jodoh atau tunangannya baik dari dalam atau luar kampung tersebut.
TINJU ADAT TRADISIONAL
PROPINSI NUSA TENGGARA TIMUR
Tinju tradisional selalu
dirayakan setiap tahun oleh beberapa suku di kabupaten Nagekeo ,
propinsi Nusa Tenggara Timur misalnya di Desa Rowa (Kampung Wolopogo), Kampung Bo'awae, Dhere isa, Kampung Olaewa, Kampung Malalaja dan masih banyak kampung lain menyelenggarakan tinju adat ini. Dalam tinju adat tersebut tidak
membutuhkan uang yang banyak karena semua peralatan yang dibutuhkan dan
fasilitas yang digunakan masih terbuat dari bahan- bahan tradisional
yang mudah didapat. Dan orang-orang yang akan menjadi petinju tidak
dibayar dengan uang. Meskipun demikian orang-orang tetap menyukai tinju
adat karena sudah menjadi tradisi orang-orang di daerah tersebut. Konsep
mereka adalah dengan melakukan tinju , nama mereka lebih dikenal oleh
banyak orang. Dan bahkan orang-orang di daerah tersebut merayakan tinju
adat dengan beberapa tujuan. Selain menghibur masyarakat, tinju adat
juga diadakan untuk menjalin relasi atau hubungan diantara berbagai
suku di kabupaten tersebut.
Video tinju adat tradisional di DI KABUPATEN NAGEKEO
Tarian Adat di Nagakeo, Flores
BEBERAPA JENIS KOLEKSI FOTO TARIAN ADAT NAGEKEO DAN PAKAIAN ADATNYA
DI NUSA TENGGARA TIMUR
Kabupaten Nagekeo Berbatasan Darat Langsung Dengan Wilayah Kabupaten Ngada Dan Wilayah Kabupaten Ende. Sarana Utama Kota Mbay Yang Menghubungkannya Dengan Kabupaten Lain Yang Berada Di Wilayah Flores Adalah Dengan Jalan Darat Yang Menghubungkan Mulai Dari Kawasan Paling Timur Pulau Flores Yaitu Dari Larantuka Adalah Ibukota Kabupaten Flores Timur Menuju Kota Mbay Sampai Ke Bagian Barat Flores Yaitu Di Kota Labuan Bajo Yang Adalah Ibukota Kabupaten Kabupaten Manggarai Barat.
Kabupaten Nagekeo adalah Salah Satu Kabupaten Di Pulau Flores, Yang Masih Berada Didalam Wilayah Propinsi NTT (Nusa Tenggara Timur). Kabupaten Nagekeo
Dengan Ibukotanya Mbay, Adalah Sebuah Kabupaten Baru Yang Terbentuk
Setelah Pemekaran Kabupaten Berdasarkan UU No. 2 Tahun 2007. Kabupaten Nagekeo
Yang Terletak Di Bagian Barat Didalam Pulau Flores Ini Secara Resmi
Berdiri Sebagai Sebuah Kabupaten Otonom Pada Tanggal 22 Mei Tahun 2007.
Sebagai Sebuah Kabupaten Baru, Kabupaten Nagekeo Tentunya Memiliki Banyak Ragam Kebudayaan NTT (Nusa Tenggara Timur) Yang Belum Terkspos Secara Gamblang.
Letak Astronomis Kabupaten Nagekeo Adalah Diantara 8° 26' 16,12" LS - 8° 54' 40,24" LS Dan 121° 5' 19,52" BT - 121° 31' 30,94" BT. Dengan Batas-Batas Wilayahnya Adalah :
1. Batas Sebelah Utara Kabupaten Nagekeo Adalah : Laut Flores
2. Batas Sebelah Timur Kabupaten Nagekeo Adalah : Kabupaten Ende
3. Batas Sebelah Selatan Kabupaten Nagekeo Adalah : Laut Sawu
4. Batas Sebelah Barat Kabupaten Nagekeo Adalah Kabupaten Ngada Wilayah
1. Kecamatan Mauponggo
2. Kecamatan Keo Tengah
3. Kecamatan Nangaroro
4. Kecamatan Boawae
5. Kecamatan Aesesa
6. Kecamatan Aesesa Selatan
7. Kecamatan Wolowae
Sebuah Tarian Tradisional NTT, Yang Berasal Dari Kabupaten Nagekeo, Di Pulau Flores. Tari Togadu Ini Sebenarnya Adalah Tarian Perang, Yang Digunakan Membangkitkan Semangat Kepahlawanan Dari Para Pejuang Didalam Medan Pertempuran. Tari Togadu Ini Menampilkan Pemuda Nagekeo Dalam Sebuah Kancah Pertempuran. Irama Tarian Togadu Ini Seringkali Diiringi Dengan Alat Musik Yang Terbuat Dari Bambu Dan Juga Menggunakan Tambur Sebagai Pengiringnya.
Selasa, 25 September 2012
Perlukah Menjadwalkan Seks?
Pernahkan terpikirkan untuk membuat jadwal berhubungan intim dengan
suami? Mungkin hal ini terdengar aneh, tidak romantis dan kurang
spontan. Tapi kenapa buru-buru bilang tidak, bila ternyata ini bisa
menjadi solusi buat pernikahan Anda.
Coba pikir Anda menjadwalkan waktu pergi dokter, latihan di gym atau sekadar bertemu dengan teman. Kenapa tidak menulis di agenda pribadi dan bikin janji dengan suami seks nanti malam jam 9.
"Ini bisa saja solusi untuk pasangan sibuk dalam mempertahankan keintiman," kata Janice Epp, Ph.D., Dekan Institute for Advanced Studies of Human Sexuality, San Francisco, AS.
"Saya sering melihat banyak pasangan muda yang bekerja 14 hingga 15 jam sehari dan mereka bertanya-tanya mengapa mereka jadi jarang berhubungan seks dengan pasangan," kata Epp.
"Lalu pasangan di usia 50-an, 60-an, 70-an dan tidak lagi melihat seks hal yang penting. Mereka sudah bertahun-tahun menempatkan seks nomor sekian dibandingkan urusan yang lain."
Meski terdengar aneh membuat jadwal berhubungan seks bisa menjadi cara terbaik untuk pasangan yang masih tertarik berhubungan seksual serta menyelamatkan pernikahan dan kehidupan seks mereka.
Epp menyamakan penjadwalan seks sama dengan menjadwalkan meeting, potong rambut, spa dsb. Ini tandanya Anda sedang membangun antisipasi bagi hubungan Anda. "Beberapa orang mengatakan, 'Seks harus spontan!' Bagi saya itu omong kosong!" ujar Epp sambil tertawa. "Anda membuat rencana, jadwal hal-hal yang lain, lalu apa bedanya dengan seks."
Anda harus merencanakan kencan seks pada saat yang tepat. Artinya momen kalian berdua dalam kondisi prima tak terlalu lelah. Mungkin pagi hari saat baru bangun tidur, saat mandi bersama atau kenikmatan sesi sore di akhir pekan.
"Sangat penting bahwa Anda memiliki waktu intim bersama-sama, Terlepas itu melibatkan seks atau tidak," kata Epp. Jika hal ini masih juga terasa janggal buat Anda. Atau lebih parah lagi hasrat terhadap suami sudah padam semenjak memiliki anak, Anda dapat memulainya dengan kencan.
"Apa yang diperlukan pasangan memiliki waktu berduaan tanpa ada gangguan," lanjut Epp. "Jangan berbicara tentang pekerjaan, anak-anak atau cicilan. Melainkan berpelukan, saling menyentuh, atau memijat. "
Kebersamaan memungkinkan pasangan untuk membangun kembali keintiman yang memudar akibat kesibukan sehari-hari. "Setelah menjadi menyenangkan dan indah lagi, langkah selanjutnya adalah penjadwalan keintiman lebih lama atau seks," saran Epp.
Dengan penjadwalan seks dan berkomitmen untuk menjalankan jadwal tersebut, seks bisa menjadi bagian yang berharga dan menyenangkan dari hubungan Anda lagi. Ini mungkin tidak mudah, tapi patut dicoba.
"Seks adalah hal yang alami, akan tetapi kadang sesuatu yang begitu alami tak dapat berfungsi tanpa adanya bantuan dan usaha,"pungkasnya. (huffingtonpost)
Coba pikir Anda menjadwalkan waktu pergi dokter, latihan di gym atau sekadar bertemu dengan teman. Kenapa tidak menulis di agenda pribadi dan bikin janji dengan suami seks nanti malam jam 9.
"Ini bisa saja solusi untuk pasangan sibuk dalam mempertahankan keintiman," kata Janice Epp, Ph.D., Dekan Institute for Advanced Studies of Human Sexuality, San Francisco, AS.
"Saya sering melihat banyak pasangan muda yang bekerja 14 hingga 15 jam sehari dan mereka bertanya-tanya mengapa mereka jadi jarang berhubungan seks dengan pasangan," kata Epp.
"Lalu pasangan di usia 50-an, 60-an, 70-an dan tidak lagi melihat seks hal yang penting. Mereka sudah bertahun-tahun menempatkan seks nomor sekian dibandingkan urusan yang lain."
Meski terdengar aneh membuat jadwal berhubungan seks bisa menjadi cara terbaik untuk pasangan yang masih tertarik berhubungan seksual serta menyelamatkan pernikahan dan kehidupan seks mereka.
Epp menyamakan penjadwalan seks sama dengan menjadwalkan meeting, potong rambut, spa dsb. Ini tandanya Anda sedang membangun antisipasi bagi hubungan Anda. "Beberapa orang mengatakan, 'Seks harus spontan!' Bagi saya itu omong kosong!" ujar Epp sambil tertawa. "Anda membuat rencana, jadwal hal-hal yang lain, lalu apa bedanya dengan seks."
Anda harus merencanakan kencan seks pada saat yang tepat. Artinya momen kalian berdua dalam kondisi prima tak terlalu lelah. Mungkin pagi hari saat baru bangun tidur, saat mandi bersama atau kenikmatan sesi sore di akhir pekan.
"Sangat penting bahwa Anda memiliki waktu intim bersama-sama, Terlepas itu melibatkan seks atau tidak," kata Epp. Jika hal ini masih juga terasa janggal buat Anda. Atau lebih parah lagi hasrat terhadap suami sudah padam semenjak memiliki anak, Anda dapat memulainya dengan kencan.
"Apa yang diperlukan pasangan memiliki waktu berduaan tanpa ada gangguan," lanjut Epp. "Jangan berbicara tentang pekerjaan, anak-anak atau cicilan. Melainkan berpelukan, saling menyentuh, atau memijat. "
Kebersamaan memungkinkan pasangan untuk membangun kembali keintiman yang memudar akibat kesibukan sehari-hari. "Setelah menjadi menyenangkan dan indah lagi, langkah selanjutnya adalah penjadwalan keintiman lebih lama atau seks," saran Epp.
Dengan penjadwalan seks dan berkomitmen untuk menjalankan jadwal tersebut, seks bisa menjadi bagian yang berharga dan menyenangkan dari hubungan Anda lagi. Ini mungkin tidak mudah, tapi patut dicoba.
"Seks adalah hal yang alami, akan tetapi kadang sesuatu yang begitu alami tak dapat berfungsi tanpa adanya bantuan dan usaha,"pungkasnya. (huffingtonpost)
KETENANGAN SENJA
![]() |
| KAWALIWU- LARANTUKA |
KETENANGAN SENJA
Label:
DESA KU
Lokasi:
Larantuka (LKA), Indonesia
Langganan:
Komentar (Atom)
